author_avatar icon

walakaya

English

/

Part time

I am an Indonesian freelance illustrator passionate about creating unique and memorable visual designs. I specialize in logo design, mascot characters, custom illustrations, and a wide range of creative artwork for brands, businesses, and personal projects. Whether it's for commercial use or a passion project, I strive to deliver high-quality, original designs that bring ideas to life.

View details

  • Di balik pagar sebuah sekolah Akhir yang dulu tenang, lahir sebuah ekosistem kekuasaan yang brutal. Semuanya berubah sejak Branz datang—bukan sekadar murid baru, tapi katalis kekacauan. Dengan kecerdikan manipulatif, ia membangun jaringan loyalis: anak-anak kuat dijadikan algojo, yang pintar dipaksa jadi perencana, dan yang lemah dijadikan komoditas. Dalam waktu setahun, sekolah itu bukan lagi tempat belajar—melainkan arena dominasi, di mana rasa takut menjadi mata uang utama.

    2026-08-06

    JAIL - SAMPLE

    JAIL - SAMPLE

    Di balik pagar sebuah sekolah Akhir yang dulu tenang, lahir sebuah ekosistem kekuasaan yang brutal. Semuanya berubah sejak Branz datang—bukan sekadar murid baru, tapi katalis kekacauan. Dengan kecerdikan manipulatif, ia membangun jaringan loyalis: anak-anak kuat dijadikan algojo, yang pintar dipaksa jadi perencana, dan yang lemah dijadikan komoditas. Dalam waktu setahun, sekolah itu bukan lagi tempat belajar—melainkan arena dominasi, di mana rasa takut menjadi mata uang utama.Di balik pagar sebuah sekolah Akhir yang dulu tenang, lahir sebuah ekosistem kekuasaan yang brutal. Semuanya berubah sejak Branz datang—bukan sekadar murid baru, tapi katalis kekacauan. Dengan kecerdikan manipulatif, ia membangun jaringan loyalis: anak-anak kuat dijadikan algojo, yang pintar dipaksa jadi perencana, dan yang lemah dijadikan komoditas. Dalam waktu setahun, sekolah itu bukan lagi tempat belajar—melainkan arena dominasi, di mana rasa takut menjadi mata uang utama.Di balik pagar sebuah sekolah Akhir yang dulu tenang, lahir sebuah ekosistem kekuasaan yang brutal. Semuanya berubah sejak Branz datang—bukan sekadar murid baru, tapi katalis kekacauan. Dengan kecerdikan manipulatif, ia membangun jaringan loyalis: anak-anak kuat dijadikan algojo, yang pintar dipaksa jadi perencana, dan yang lemah dijadikan komoditas. Dalam waktu setahun, sekolah itu bukan lagi tempat belajar—melainkan arena dominasi, di mana rasa takut menjadi mata uang utama.

    538
    0
    0

    2026-08-06

No likes yet

No comments yet